Budaya Kedekatan Ada dalam Silaturahim Lebaran
Jakarta --- Hari Raya Idul Fitri atau akrab disebut lebaran, identik dengan bersilaturahim dan saling memaafkan. Di Indonesia, bahkan silaturahim secara tatap muka dilakukan meski lintas pulau, dengan mudik. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh pun menilai silaturahim penting dalam merayakan lebaran.
Mantan Menkominfo ini menjelaskan makna harfiah yang terkandung dalam silaturahim. Ia mengatakan, silaturahim berarti menyambung, menghubungkan, atau memperkuat tali kasih sayang. "Sila berarti tali, rahim berarti kasih sayang," katanya saat ditemui wartawan menjelang Hari Raya Idul Fitri, Kamis (16/8) sore, di ruangan kerjanya.
Menurut Menteri Nuh, silaturahim penting karena pada dasarnya setiap manusia adalah sama, lahir dari rahim (kasih sayang). "Karena tidak ada orang yang tidak pernah singgah di rahim seorang ibu".
Media silaturahim pun beragam. Pertama, melalui perjumpaan fisik. Namun dengan perjumpaan, tidak serta merta mampu menciptakan atmosfer silaturahim yang cocok. "Misalnya ketemu di pasar, akan susah. Karena suasananya suasana dagang," tutur menteri Nuh. Menurutnya, atmosfer di hari raya adalah yang paling tepat untuk memperkuat silaturahim.
Selain melalui pertemuan fisik, kata menteri Nuh, silaturahim juga bisa melalui media virtual, seperti telepon genggam atau menggunakan jaringan internet. "Esensinya tetap memperkuat silaturahim. Jadi tradisi memaafkan dilakukan secara eksplisit, tidak hanya di dalam batin," kata penyuka aneka masakan olahan daging kambing ini.
Meskipun Hari Raya Idul Fitri merupakan hari besar agama Islam, hari raya tidak hanya urusan spiritualitas. Menteri yang mengadakan acara open house di Jakarta dan Surabaya saat lebaran ini mengakui ada aksesoris yang mewarnai hari lebaran, seperti makan-makan, memberikan uang saku untuk anak-anak, atau berkirim makanan dengan saudara atau tetangga.
Adapun aksesoris lain yang masih bersifat spiritual adalah ziarah kubur. "Meskipun berdoa tidak mengenal jarak dan posisi, tapi ada budaya yang disebut proximity culture, kedekatan. Jadi ziarah kubur menjadi tradisi karena adanya kebutuhan secara jarak psikologis, juga fisik. Jadi ada hubungan psikofisik," katanya. (DM)


