Tumbuhkan Apresiasi Budaya Melalui Kemah Budaya Nasional

Fri, 10/05/2012 (All day)

Jakarta --- Pendidikan dan penanaman karakter sejak dini melalui penerapan nilai-nilai keteladanan yang berakar pada agama, budaya, kewarganegaraan, dan budi pekerti perlu dilakukan terhadap generasi muda. Hal tersebut penting supaya generasi muda mampu mengenail, memahami, dan memebrikan apresiasi terhadap keanekaragaman budaya. Karena itulah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya Dirjen Kebudayaan, menggelar Kemah Budaya Nasional 2012.

Kemah Budaya Nasional ini akan berlangsung pada minggu kedua November 2012 di Polewali Mandar, Mamuju, Sulawesi Barat, dan diikuti anggota gerakan Pramuka Penggalang dari seluruh Indonesia. Demikian dijelaskan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Kebudayaan, Wiendu Nuryanti, saat menggelar jumpa pers di Gedung A Kemdikbud, Jumat (5/10) siang. Dalam jumpa pers tersebut, Wamendikbud didampingi Bupati Polewali Mandar, Ali Baal Masdar.

Kemah Budaya Nasional sebelumnya sudah berlangsung dua kali, yaitu di Gianyar, Bali, pada tahun 2005 dan di Pacitan, Jawa Timur, pada tahun 2009. Kegiatan Kemah Budaya Nasional 2012 diikuti anggota gerakan Pramuka Penggalang dari 33 provinsi, di mana setiap provinsi mengirimkan satu regu yang terdiri dari enam orang, dengan satu orang pendamping. Khusus Provinsi Sulawesi Barat sebagai tuan rumah, pesertanya sebanyak 200 orang.

Dalam Kemah Budaya Nasional yang berlangsung selama lima hari nanti, peserta akan mengikuti tiga jenis kegiatan, yaitu kegiatan pengantar, kegiatan inti, dan kegiatan pelengkap. Kegiatan Pengantar meliputi pembukaan, orientasi, permainan persaudaraan, dan temu tokoh/budayawan. Kegiatan Inti di antaranya permainan tradisional, kreativitas kerajinan tangan, gelar kesenian, lomba kuliner tradisional, dongeng cerita rakyat, dan karnaval budaya. Sementara Kegiatan Pelengkap meliputi bakti masyarakat, malam api unggun, dan penutupan.

Melalui Kemah Budaya Nasional, peserta diharapkan bisa saling berbagi dan mencerdaskan melalui komunikasi, serta menjalin jejaring melalui pertemuan. Selanjutnya mereka juga diharapkan bisa kembali ke daerah asal dan berproses mengolah kekayaan budayanya untuk kepentingan pengembangan budaya bangsa yang lebih luas. (DM)